Bandar Aceh mempunyai sejarah yang sangat panjang sebagai cikal-bakal Nangro Aceh Darussalam (NAD). Disinilah mula-mula berdirinya Kerajaan Aceh yang bernama Lamuri atau Al Ramni atau Rami, yang situsnya masih terdapat di Gampong Pande. Dari literature-literatur dan buku-buku sejarah tentang Aceh, sejarah Melayu, Naskah-naskah tua, hikayat-hikayat Aceh serta wawancara dengan orang-orang tua, maka dapatlah diketahui, bahwa Aceh sudah mempunyai peradaban dan mempunyai system pemerintahan pada masa berabad-abad sebelum masehi. Catatan sejarah tentang kegiatan pelaut-pelaut Paoenisia yang tersimpan dalam perpustakaan dikota pelabuhan Alexandria (Iskandariyah), tetapi karena sudah hilang maka yang dapat digunakan sebagai sumber adalah Injil (Thomas Braddell “ The Ancient trede of the Indian Archipelago”, Jil. II No: 3, 1857) antara lain tentang apa yang pernah disampaikan oleh The King of Salomon (Nabi Sulaiman A.S) kepada rakyatnya, yaitu pelaut-pelaut Phonesia supaya berlayar menuju ke timur untuk menemui gunung Ophir, karena ditempat tersebut banyak tersimpan harta berharga yaitu emas. Tiga tahun lamanya pelaut tersebut berpergian, mereka kembali dengan berhasil membawa harta karun tersebut dalam jumlah besar ( D.M. Champhel mengatakan Ophir itu terletak di ujung utara Sumatra yaitu Aceh yang sekarang disebut kampong Pande. Semenjak itu daya tarik berlayar semakin besar untuk menuju ke timur kearah matahari terbit dan berangsur angsur pula bahan dagangan bertambah ragam. Dari Eropa dibawa orang-orang barang perdagangan ke Alexanderia, disini dipertukarkan dengan barang-barang yang dibawa oleh orang Arab Saba yang pada giliranya pula menampung barang-barang baik dari sepanjang pantai Arab Selatan maupun dari Teluk Parsi dan India. Pada masa itulah tampil di pasar Alexanderia hasil-hasil kekayaan dari Aceh seperti rempah-rampah, kapur barus, belerang, kemenyan, emas, perak dan timah. Pada tahun 376 S.M. seorang nahkoda Yunani yang tidak dikenal siapa orangnya pernah membuat semacam buku penuntun yang diberinama “Periplus Maris Erythraea) (Petunjuk Pelayaran laut India) menjelaskan lintasan perdagangan yang terjadi masa itu antara Mesir dan India dan pelabuhan-pelabuhan yang dijumpai ditengah perjalanan laut dan barang yang diperjual belikan antara negara yang bersangkutan, tetapi keterangan sampai ke timur lagi diperoleh dari orang-orang India yang mena mereka menceritakan ada suatu pulau dilautan India yang bernama Chryse yang menghasilkan penyu terbaik di lautan India. Jadi dapatlah diketahui bahwa pulau yang menghasilkan penyu adalah Sumatera, yang oleh Periplus ini oleh orang-orang barat dianggap sebagai perintis jalan untuk mengenal kepulauan Indonesia yang menghasilkan kekayaan alam dan hasil bumi rempah-rempah tersebut. Namun orang pertama yang memperkenalkan Nusantara dan semenanjung Melayu adalah Ptolemaeus pada tahun 301 SM dia juga salah seorang panglima atau menteri dari Maharaja Iskandar Zulkarnaen, dimana setelah beliau wafat dia mengambil alih kekuasaan di Alexanderia. Kota tersebut merupakan suatu pelabuhan besar pada zaman dulu di Mesir yang banyak memegang peranan dalam lintas perdagangan antar bangsa. Bukunya yang terkenal “geograpike Uplehesis” berupa ilmu bumi dunia yang lengkap dengan peta-petanya. Pada Bab ketujuh, dia membicarakan kepulauan dan semenanjung bagian Asia Tenggara. Dia memperkenalkan “Aureachersoneseus” atau “Golden Chersoneseus” atau dalam bahasa Indonesia disebut “Pulau Emas” kalau orang Belanda menyebutnya Golden Berg. Dalam peta itu ditempatkannya sebuah pulau bernama Jabadiou (Sumatera). Suatu kemungknan dapat diperhitungkan bahwa barang-barang yang dibeli atau diangkut dari Barygaza, sebagiannya berasal dari ujung pulau Sumatera yaitu Aceh, dalam kaitan ini dapat diperhitungkan, telah terjadi perdagangan antar pulau, seperti Kalimantan, Bugis, Maluku, Jawa maupun Palembang, Aceh sebagai entreport untuk hubungan ke luar negeri karena yang terpenting komoditi eksport pada masa itu adalah rempah-rempah (lada), kapur barus, emas dan perak, semuanya disuplai oleh pelabuhan Aceh. Ptolemaeus menyebutkan kota pelabuhan daripada Aurea Chersoneseus dalam catatannya bernama “Argure” atau kota perak yang terletak dibagian paling barat pulau emas, yang banyak menghasilkan emas dan sangat subur. Dapat diperhitungkan bahwa Argire yang dimaksudkan adalah Lamuri, atau sekarang kampong Pandee (J. L Moens). Dalam catatan sejarah China dalam tarikh Dinasti Han pada abad 206 SM, catatan dimaksud berkenaan dengan masa pemerintahan Kaisar “Wang Mang” yang mana Kaisar tersebut mengirimkan bingkisan berupa mutiara, permata dan barang-barang lain kepada sebuah negeri yang disebut dalam catatan itu bernama Huang Tsche dan Kaisar Wang meminta imbalan dari bingkisan nya, supaya dikirimkan binatang badak yang terdapat dinegeri itu, Wang bermaksud hendak memelihara badak tersebut dikebun binatangnya, disini sejarahwan berpendapat yang dimaksud Huang Tsuie adalah Aceh yang terletak di Ujung Pulau Sumatera Bagian Utara. Dapat dijelaskan disini bahwa masih banyak catatan-catatan sejarah baik dari perjalanan pelaut-pelaut Phoenesia maupun perjalanan daripada bangsa-bangsa Arab, Persia dan Tionghoa yang tidak ditulis disini. Sesudah ± tahun 400 SM, Aceh di ujung paling barat Pulau Sumatera, dinamai oleh orang Arab Rami (Al Ramni) oleh orang Tionghoa menyebut Lan-li, Lam-wuli, Nan-wuli, Nan-poli yang sebenarnya sebutan Aceh adalah Lamuri menurut sejarah Melayu, oleh Marcopolo menyebut Lambri setelah kedatangan Portugis nama Lambri tidak pernah disebut lagi melainkan Achem atau (Acheh) Sejak permulaan abad ke 1 Masehi di Aceh sudah ada pemerintahan atau kerajaan yang diperintahkan oleh Meurah-Meurah dan meugat-meugat dengan nama Kerajaanya Lamuri, yang terletak di ujung Barat Pulau Sumatera didekat pantai ± 2 km dan ± 500 meter di pinggir Krueng Aceh yang sekarang disebut Kampung Pande Situs daripada Istana (pendopo). Dan mesjid masih ada sampai dengan sekarang) walaupun sebagian sudah rusak akibat tsunami pada tanggal 26 Desember 2004.
"Lonceng Cakra Donya" : Hadiah Dari Kaisar Cina untuk Aceh
Lonceng Cakra Donya merupakan benda bersejarah yang kini merupakan salah satu koleksi Museum Aceh. Menurut sejarahnya lonceng ini diberikan oleh kerajaan China melalui Laksamana Cheng Ho yang merupakan pelayar tangguh, sebagai ikatan persahabatan antara kerajaan China dengan Kerajaan Aceh.
Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi.
Pada dasarnya Cakra Donya adalah nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Kapal Cakra Donya di mana lonceng ini digantungkan, dalam penyerbuannya terhadap Portugis di Malaka. Pada masa lalu Lonceng dari Kapal Cakra Donya tersebut, digantung dengan rantai jangkar pada pohon kuda-kuda dekat Mesjid Baiturrahnim dalam kompleks kraton untuk dibunyikan apabila penghuni kraton harus berkumpul guna mendengarkan pengumuman Sultan. Akan tetapi, sejak tahun 1915 M Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh dan ditempatkan dalam kubah tersebut. Rantai Cakra Donya panjangnya 9,63 cm adalah rantai besi yang dahulu pernah dipakai untuk menggantung Lonceng Cakra Donya pada pohon kuda-kuda di depan Mesjid Baiturrahim dalam kompleks Istana Kesultanan Aceh Darussalam sampai tahun 1915.
Sejarah
Catatan sejarah tertua dan pertama-tama mengenai kerajaan-kerajaan di Aceh, didapati dari sumber-sumber tulisan sejarah Tiongkok. Dalam catatan sejarah dinasti Liang (506-556), disebutkan adanya suatu kerajaan yang terletak di Sumatra bagian utara pada abad ke-6 yang dinamakan Po-Li dan beragama Budha(sebelum masuknya agama Islam).Pada abad ke 13 teks-teks Tiongkok (Zhao Ru-gua dalam bukunya Zhu-fan zhi) menyebutkan Lan-wu-li (Lamuri) di pantai timur Aceh. Dan pada tahun 1282, diketahui bahwa raja Samudra-Pasai mengirim dua orang (Sulaiman dan Shamsuddin) utusan ke Tiongkok. Di dalam catatan Ma Huan (Ying-yai sheng-lan) dalam pelayarannya bersama dengan Laksamana Cheng Ho, dicatat dengan lengkap mengenai kota-kota di Aceh seperti, A-lu (Aru), Su-men-da-la (Samudra), Lan-wu-li (Lamuri).
Dalam catatan Dong-xi-yang- kao (penelitian laut-laut timur dan barat) yang dikarang oleh Zhang Xie pada tahun 1618, terdapat sebuah catatan terperinci mengenai negara Aceh modern. Samudra-Pasai adalah sebuah kerajaan dan kota pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Timur Tengah, India sampai Tiongkok pada abad ke 13 -16. Samudra Pasai ini terletak pada jalur sutera laut yang menghubungi Tiongkok dengan negara-negara Timur Tengah, di mana para pedagang dari berbagai negara mampir dahulu /transit sebelum melanjutkan pelayaran ke/dari Tiongkok atau Timur Tengah, India.
Kota Pasai dan Perlak juga pernah disinggahi oleh Marco Polo (abad 13) dan Ibnu Batutah/Batistuta (abad 14) dalam perjalanannya ke/ dari Tiongkok. Barang dagangan utama yang paling terkenal dariPasai ini adalah lada dan banyak diekspor ke Tiongkok, sebaliknya banyak barang-barang Tiongkok seperti Sutera, Keramik, dll. diimpor ke Pasai ini. Pada abad ke 15, armada Cheng Ho juga mampir dalam pelayarannya ke Pasai dan memberikan Lonceng besar yang tertanggal 1409 (Cakra Donya) kepada raja Pasai pada waktu itu. Samudra Pasai juga dikenal sebagai salah satu pusat kerajaan Islam (dan Perlak) yang pertama di Indonesia dan pusat penyebaraan Islam keseluruh Nusantara pada waktu itu. Ajaran-ajaran Islam ini disebarkan oleh para pedagang dari Arab (Timur Tengah) atau Gujarat (India), yang singgah atau menetap di Pasai. Di kota Samudra Pasai ini banyak tinggal komunitas Tionghoa, seperti adanya "kampung Cina", seperti ditulis dalam Hikayat Raja-raja Pasai.
Jadi jauh sebelum kerajaan Aceh Darussalam berdiri, komunitas Tionghoa telah berada di Aceh sejak abad ke-13. Karena Samudra Pasai ini terletak dalam jalur perdagangan dan pelayaran internasional serta menjadi pusat perniagaan internasional, maka berbagai bangsa asing lainnya menetap dan tinggal disana yang berkarakter kosmopolitan dan multietnis. Tome Pires menyebutkan bahwa kota Pasai adalah kota penting yang berpenduduk 20.000 orang. Pada tahun 1524 Samudra Pasai ditaklukan oleh Sultan Ali Mughayat Syah dari kerajaan Aceh Darussalam dan sejak itu Samudra Pasai merosot dan pudar pamornya untuk selamanya. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam adalah ketika pada jaman Sultan Iskandar Muda (1607-36), Aceh pada waktu jaman Iskandar Muda ini adalah negara yang paling kuat di seluruh Nusantara, bahkan di Asia Tenggara.
Kekuasaan Aceh pada saat itu meliputi Barus, Tiku, Pariaman(Minangkabau), Riau, Siak, sebagian Bangkahulu dan sebagia Semenanjung Malaya(Johor, Pahang, Perak). Aceh meluaskan kekuasaannya dan memerangi Portugis, Kesultanan Johor, Pahang dll. Aceh juga merupakan sebuah negara maritim dan sebagai salah satu pusat perdagangan internasional. Banyak pedagang asing singgah dan menetap di Aceh, seperti dari Arab, Persia, Pegu, Gujarat, Jawa, Turki, Bengali, Tionghoa, Siam, Eropah dll. Pada saat itu Aceh menjalin kerjasama militer dengan negara Turkey Ottoman. Di kota kerajaan ini (Banda Aceh sekarang), banyak dijumpai perkampungan perkampungan dari berbagai bangsa, seperti kampong Cina, Portugis, Gujarat, Arab, Pegu, Benggali dan Eropah lainnya. Kota Banda Aceh ini benar-benar sebuah kota kosmopolitan yang berkarakter internasional dan multietnis. Seperti di Samudra Pasai, Aceh juga banyak menghasilkan Lada yang diekspor ke Tiongkok.
Pada waktu itu orang Aceh telah menguasai pembuatan atau pengecoran pembuatan Meriam dan tidak semua meriam di Aceh adalah buatan luar negeri (seperti meriam buatan Turki atau Portugis). Orang Aceh mendapatkan ilmu pembuatan meriam ini dari orang Tionghoa (Kerajaan Aceh, Denys Lombard). Demikian juga dengan pertenakan sutera yang sudah dikuasai oleh orang Aceh yang kemungkinan besar diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa. Pengganti Sultan Iskandar Muda adalah mantunya sendiri yang bernama Sultan Iskandar Tsani (1636-41).
Periode pemerintahan Iskandar Tsani ini adalah awal dari kemerosotan Kerajaan Aceh Darussalam, periode pemerintahannya juga sangat singkat. Iskandar Thani tidak melakukan politik ekspansi wilayah lagi seperti mertuanya dan lebih memusatkan kepada pengetahuan dan ajaran Islam.
Pada jaman Iskandar Tsani ini, di ibukota kerajaan telah dibangun sebuah taman yang dinamakan "Taman Ghairah", seperti yang dikisahkan dalam buku Bustan us-Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri(orang Ranir, Gujarat, penasihat Sultan, ahli tasawuf). Diceritakan bahwa didalam taman itu telah dibangun sebuah "Balai Cina" (paviliun) yang dibuat oleh para pekerja orang Tionghoa.
Peranan orang Tionghoa di bidang perdagangan di Aceh diperkirakan bertambah besar pada paruh kedua abad ke-17. Selain ada yang tinggal dan berdagang secara permanen di ibukota Aceh ini, ada juga pedagang musiman yang datang dengan kapal layar (10-12 kapal sekali datang) pada bulan-bulan tertentu seperti pada bulan Juli. Kapal-kapal (Jung) Tionghoa tersebut juga membawa beras ke Aceh (impor beras dari Tiongkok). Mereka tinggal dalam perkampungan Cina dekat pelabuhan, yang sekarang mungkin lokasinya disekitar "Peunayong" (Pecinan Banda Aceh).
Bersama dengan kapal itu juga datang para pengrajin bangsa Tionghoa seperti tukang kayu, mebel, cat dll. Begitu tiba mereka mulai membuat koper, peti uang, lemari dan segala macam lainnya. Setelah selesai mereka pamerkan dan jual di depan pintu rumah. Maka selama dua atau dua bulan setengah berlangsunglah "pasar (basar) Cina" yang meriah. Toko-toko penuh sesak dengan barang dan seperti biasanya orang-orang Tionghoa ini tidak lupa juga untuk bermain judi seperti kebiasaannya. Pada akhir September, mereka berlayar kembali ke Tiongkok dan baru kembali lagi tahun depannya. Barang-barang dari Tiongkok ini ada beberapa diantaranya diekspor ke India.(Kerajaan Aceh, Denys Lombard).
Cakra Donya
Lonceng atau genta yang terkenal dan termasyhur (icon kota Banda Aceh) di Aceh ini sekarang diletakkan di Musium Aceh, Banda Aceh. Lonceng yang dibawa oleh Cheng Ho ini adalah pemberian Kaisar Tiongkok, pada abad ke-15 kepada Raja Pasai. Ketika Pasai ditaklukkan oleh Aceh Darussalam pada tahun 1524, lonceng ini dibawa ke Kerajaan Aceh. Pada awalnya lonceng ini ditaruh diatas kapal Sultan Iskandar Muda yang bernama "Cakra Donya"
(Cakra Dunia) waktu melawan Portugis, maka itu lonceng ini dinamakan Cakra Donya. Kapal Cakra Donya ini bagaikan kapal induk armada Aceh pada waktu itu dan berukuran sangat besar, sehingga Portugis menamakannya "Espanto del Mundo" (Teror Dunia). Kemudian Loncengyang bertuliskan aksara Tionghoa dan Arab (sudah tak dapat dibaca lagi aksaranya sekarang) ini diletakkan dekat mesjid Raya Baiturrahman yang berada dikompleks Istana Sultan. Namun sejak tahun 1915 lonceng ini dipindahkan ke Musium Aceh dan ditempatkan didalam kubah hingga sekarang (halaman Musium). Lonceng Cakra Donya ini telah menjadi benda sejarah kebanggaan orang Aceh hingga sekarang. Lonceng ini juga juga merupakan bukti dan simbol hubungan bersejarah antara Tiongkok dan Aceh sejak abad ke-15.
Lonceng raksasa Cakra Donya merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang bermutu tinggi yang disimpan di Museum Aceh. Lonceng raksasa Cakra Donya merupakan sebuah bingkisan Maharaja Cina yang diantar oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1414. Di atas Lonceng tersebut tertera aksara Cina "Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Yat Tjo".
Sumber
Lagenda Gajah Putih Kerajaan Aceh Darussalam
M. Junus Djamil dalam bukunya yang berjudul “Gadjah Putih” yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh tahun1959 di Kutaradja, antara lain telah menulis tentang “Riwajat asal usul wudjudnya Gadjah Putih di Keradjaan Atjeh” yang berhubungan dengan berdirinya Kerajaan Linge di daerah Gayo.tulisan tersebut bersumber dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesen dan dari Zainuddin yaitu raja dari Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di daerah Gayo Laut pada masa kolonial Belanda dahulu.
Menurut Junus Djamil di sekitar tahun 1025 di daerah Gayo telah berdiri Kerajaan Linge pertama yang dipimpin oleh seorang raja yang namanya “Kik Betul” atau“Kawee Teupat”. Menurut sebutan orang Aceh, pada masa berkuasanya Sultan Machuclum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak sekitar tahun 1012-1058.
Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mempunyai beberapa anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga, Meurah Johan dan Meurah Lingga, Meurah Silu dan Meurah Mege.
Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan membuka negeri di sana. Dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi Raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai.Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.
Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge.Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.
Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya MeurahMege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.
Baru 500 tahun kemudian yaitu sekitar tahun 1511, diketahui seorang raja keturunan Raja Linge yang dikenal sebagai Raja Linge ke XIII. Raja Linge ke XIII terkenal, karena selain kedudukannya di Tanah Gayo, juga mempunyai kedudukan penting di pusat Kerajaan Aceh dan di dalam Pemerintah Kerajaan Johor di semenanjung Tanah Melayu.
Ketika Portugis menyerang dan merebut Kerajaan Malaka tahun 1511, Sultan Mahmud Syah dari Malaka terpaksa mengundurkan diri ke Kampar di daerah Sumatera, sedang keluarganya diungsikan ke Aceh Darussalam. Dalam keadaan yang sulit ini Kerajaan Aceh telah ikut membantu Raja Malaka tersebut. Hubungan kerja sama ini telah berkembang demikian rupa hingga terjadi pula suatu perkawinan yang dapat dikatakan sebagai perkawinan politik antara Kraton Aceh dengan Kraton Malaka. Seorang putra Sultan Malaka bernama Sultan Alaudin Mansyur Syah dinikahkan dengan seorang putri Kerajaan Aceh. Sebaliknya seorang putri Sultan Malaka dikawinkan pula dengan seorang pembesar Kerajaan Aceh yaitu Raja Linge ke XIII.
Raja Linge ke XIII juga duduk dalam staf Panglima Besar Angkatan Perang Aceh (Amirul Harb), sejak Sultan Aceh berjuang mengusir Portugis dari daerah Pase dan Aru.Karena kedudukannya yang penting dalam Kerajaan Aceh, maka kedudukannya sebagai Raja Linge diserahkan kepada anaknya yang tertua menjadi Raja Linge XIV di tanah Gayo.
Dalam tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru yang dipimpin oleh Sultan Alaudin Mansyur Syah. Raja Linge XIII duduk dalam Kabinet Kerajaan Johor ini sebagai wakil dari Kerajaan Aceh. Dan dalam rangka membangun dan mengembangkan Kerajaan Johor baru, di samping menghadapi kaum penjajah Portugis, Sultan Johor telah menugaskan kepada Raja Linge XIII untuk membangun sebuah pulau di Selat Malaka yang termasuk wilayah Kerajaan Johor. Pulau tersebut kemudian terkenal dengan “Pulau Lingga”. Selama Raja Linge XIII membangun Pulau Lingga ini dia memperoleh dua orang anak lelaki, seorang di antaranya bernama “Bener Merie” dan seorang lagi adiknya bernama “Sengeda”. Di Pulau Lingga inilah kemudian Raja Linge XIII meninggal dunia.
Setelah meninggalnya Raja Linge XIII, istrinya yang berasal dari Kraton Malaka itu, pindah ke Aceh Darussalam dengan membawa kedua anaknya yang masih kecil, yakni Bener Merie dan Sengeda. Ketika kedua-duanya menginjak dewasa, barulah ibunya memberi tahukan asal keturunan ayahnya di Linge Tanah Gayo. Abangnya yang tertua menjadi Raja Linge XIV di negeri Linge menggantikan ayahnya.
Demikianlah Bener Merie dan Sengeda kemudian berangkat ke Tanah Gayo untuk menemui abang dari ayahnya yaitu Raja Linge XIV.Tetapi malang nasib mereka, karena kedatangannya tidak diterima dengan baik oleh Raja Linge XIV,malahan mereka dituduh telah membunuh ayahnya Raja Linge XIII. Kedua -duanya dijatuhi hukuman mati. Bener Merie atas perintah Raja Linge XIV dibunuh, sedang pembunuhan Sengeda ditugaskan kepada Raja Cik Serule. Tetapi Raja Cik Serule tidak mau melaksanakan tugasnya, Sengeda disembunyikannya sehingga terlepas dari pembunuhan. Peristiwa ini terjadi pada masa Sultan Aceh Alaidin Ria’yah II sedang berkuasa di Aceh tahun 1539-1571.
Dalam suatu upacara di Kraton Aceh, yang dihadiri oleh seluruh raja-raja Aceh, Sultan memerintahkan kepada mereka untuk mencari “gajah putih” yang dikabarkan terdapat di hutan-hutan Tanah Gayo,untuk dipersembahkan kepadanya. Sultan akan memberikan hadiah kepada siapa yang menangkap dan menyerahkan gajah putih tersebut kepadanya.
Walaupun dengan rasa kecewa Raja Linge XIV menyiapkan perutusan ke Darussalam untuk mempersembahkan gajah putih tersebut kepada Sultan. Dia tidak mengetahui bahwa yang menangkap gajah putih tersebut adalah Sengeda yang telah diperintahkannya untuk dibunuh.
Pada upacara penyerahan gajah putih keadaan Sultan di Kraton Aceh, gajah putih yang semula direncanakan diserahkan oleh Raja Linge XIV kepada Sultan ternyata gagal, karena gajah putih tersebut mengamuk, tidak mau dituntunnya. Sifatnya yang biasanya jinak telah berubah menjadi berang dan ganas, mengejar-ngejar Raja Linge XIV yang hampir-hampir tewas.
Akhirnya Sengeda yang dapat menjinakkan gajah putih tersebut, dan menyerahkannya kepada Sultan dengan tenang. Semua yang hadir menjadi tercengang-cengang, Sultan menanyakan peristiwa yang aneh itu. Sengeda terpaksa membongkar rahasia kejahatan Raja Linge XIV yang telah membunuh abangnya Bener Merie.
Mendengar keterangan Sengeda ini, Sultan sangat murka, dan segera memerintahkan menangkap Raja Linge XIV. Kemudian dimajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman mati. Tetapi beruntung, bagi Raja Linge XIV, dia tidak jadi dihukum mati, karena ibu Sengeda dan Sengeda sendiri memberi maaf kepadanya di muka pengadilan, sehingga Sultan membatalkan hukuman mati tersebut. Hukumannya diperingan sekedar diturunkan pangkatnya dan membayar diet atau semacam denda.
Segera setelah peristiwa gajah putih ini, Sultan mengangkat Sengeda menjadi Raja Linge ke XV menggantikan Raja Linge XIV yang khianat itu. Kisah atau legenda lain mengenai peristiwa “gajah putih”dan kisah “Sengeda” adalah berdasar versi yang ditulis oleh seorang penyair Gayo yaitu Ibrahim Daudi atau yang lebih terkenal Mude Kala dalam bentuk syair bahasa Gayo. Jalan ceritanya hamper sama, tetapi isinya jauh berbeda.
Perbedaan terpenting antaranya adalah menurut tulisan M. Junus Djamil kisah “gajah putih” dan Sengeda tersebut berhubungan dengan pengangkatan Sengeda menjadi Raja Linge XV, sedangkan dalam kisah dalam bentuk syair Gayo versi Mude Kala, kisah atau legenda gajah putih dan kisah Sengeda tersebut berhubungan dengan pembentukan “Kejurun Bukit” di Gayo Laut.
Menurut versi Mude Kala, karena jasanya menemukan gajah putih dan membongkar rahasia pembunuhan terhadap Bener Merie,maka Sengeda diangkat menjadi Raja Bukit pertama di Gayo Laut.Sengeda dianggap sebagai keturunan raja-raja Bukit selanjutnya.
asal mula legenda Gajah Puteh
Di negeri antara hiduplah seorang pemuda yang bernama Sangeda. Dia adalah putra Raja Linge. Sangeda adalah pemuda yang santun, sopan, dan rendah hati. Ia sangat di cintai oleh rakyatnya dan di hormati oleh putra-putra raja yang lainnya.
Sebenarnya Sengeda mempunyai seorang kakak yang bernama Bener Meriah. Ia mengungsi ke hutan karena di fitnah menentang sang Raja. Di hutan dia bertapa dan terus berdo’a. Ia meminta pada yang Sang Khalik agar dia di ubah wujudnya menjadi seekor Gajah Putih. Hal ini dilakukannya agar ia dapat mendekatkan diri dan diterima kembali oleh keluarga besarnya.
Pada suatu malam, Senegda bermimpi tentang seekor Gajah Putih. Gajah itu mengamuk dan mengobrak-abrik Kerajaan Linge. Dalam mimpinya ia bertemu dengan Rejee, gurunya. Sengeda yakin bahwa Gajah Putih itu adalah jelmaan kakak kandungnya. Oleh karena itu, sang Guru mengajarkan bagaimana cara menjinakkan Gajah itu tanpa membunuhnya.
Sengeda terbangun dari tidurnya, ia enghafal semua gerakan yang gurunya ajarkan di dalam mimpi. Awalnya memang seperti gerakan bela diri, seperti yang pernah di pelajarinya ketika masih Di Bukit Belang Gelee. Tetapi semakin lama bergerak, ia terlihat seperti menari-nari. Tarian inilah ang di sebut Tari Guel. Keesokan harinya, kehebohan terjadi di Kerajaan Linge. Seekor Gajah Putih mengamuk di alun-alun kerajaan. Para penduduk melempari dan menyoraki gajah itu sejak masuk gerbang kerajaan, sampai ke alun-alun.
Raja memerintahkan kepada pengawal kerajaan agar memanggil dan orang sakti untuk menjinakkan si gajah. Namun, seluruh semua benda tajam dan ilmu sakti tidak mebuat gajah putih itu bergeming sedikitpun. Sengeda merasa sedih, ia tahu bahwa gajah putih itu adalah jelmaan dari abang kandungnya. “Ayahanda, izinkan ananda menjinakkan Gajah Putih itu,” Kata Sengeda. “Benarkah ?” kata Raja Ragu. “Dengan izin Allah, dan restu ayahanda,” Sengeda meyakinkan.
Sengeda berangkat ke alun-alun diiringi teman-teman seperguruannya. Ia menaiki Gajah Hitam didampingi gurunya Rejee. Sengeda memerintahkan para penduduk agar tidak lagi menyerang sang Gajah.
Ia meminta para rakyat menabuh bunyi-bunyian. Tambur (tamur = gayo), canag (gamelan), gegedem ( rapaii atau rebana), sampai gong semuanya di tabuh. Para kaum ibu di minta untuk menabuhkan lesung padi atau jingki. Bunyi-bunyian itu akhirnya dapat menenangkan hati sang gajah putih itu.
Lalu, tiga puluh pemuda yang dari berbagai desa diperintahkan untuk membentu setengah lingkaran mengelilingi gajah putih sabil bertepuk tangan dengan irama yang beraturan dan memuji kebaikan-kebaikan Bener Meriah. Perlahan-lahan Sengeda bergerak menari dengan irama yang sangat perlahan. Gajah Putih putih itu mulai bangun dan bergerak maju mundur di tempat. Lambat laun gerak tari mulau terasa berirama gembira. Gerakan ini di kemudian hari dikenal dengan tari Redep.
Gajah Putih mulai melngkah mengikuti Sengeda. Lalu irama musik pun makin riang, gembira dan mulai kencang yang disebut Cicang Nangka. Berjalanlah gajah putih ke gerbang istana. Raja Linge telah menunggu di pintu istana (Umah pitu ruang) untuk menyambut sigajah putih. Ine atau ibu dari Sengeda dan Bener meriah bersebuka atau meratap dengan keharuan menyambut anaknya.
Di depan Raja Linge, gajah putih menunduk dan menghormat layaknya seorang anak yang sujud pada orang tua. Air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian Sengeda menceritakan kepada kedua ayah dan ibunya bahwa gajah putih ini adalah kakak kandungnya Bener Meriah. Dia meminta dirinya diubah menjadi gajah putih karena difitnah oleh teman-temannya. Kini ia ingin kembali kekeluarganya. Maka terharulah kedua orang tuanya itu yaitu Raja Linge dan permaisurinya.
Kabar tentang gajah putih yang sakti itu sampai di telinga Raja Aceh Darussalam. Raja Aceh sangat tertarik, dan meminta agar Gajah Putih itu di berikan kepada Kerajaan Aceh Darussalam. Walaupun berat, akhirnya Raja Linge menyerahkan gajah putih itu kepada Raja Aceh, sejak saat itu gajah putih itu dipelihara oleh Raja Aceh sebagai binatang kesayangan Kerajaan Darussalam.
Saat ini nama Bener Meriah dijadikan sebagai nama sebuah Kabupaten di Serambi mekah, setelah memisahkan diri dari Kabupaten Aceh Tengah. Gajah Putih atau Gajah Puteh di jadikan simbol Ksatria Kodam I Iskandar Muda Nanggroe Aceh Darussalam (sebelum dipindahkan ke sumatra utara bergabung dengan Kodam I Bukit Barisan). Sikap Bener Menriah dalm menjaga dan membela kehormatan diri dan keluarganya dilambangkan dengan Ponok (Badik) yang terselip di pinggang mepelai Pria.
Legenda Gajah Putih juga dipercaya sebagai awal mula terciptanya Tari Tradisional Guel yang hanya boleh ditarikan oleh laki-laki serta didampingi oleh guru rejee, gajah hitam, tujuh orang wanita penari utama, delapan wanita penari pengiring, dan seorang penari pria sebagai simbol Sengeda. Kerajaan Linge pernah berdiri di tanah gayo. Tapak dan bekas kerajaan tersebut masih bisa di temukan di Daerah Linge.
TARI GUEL, Simbolisasi Legenda Sengeda dan Gajah Putih
Seni secara harfiah diartikan sebagai suatu keindahan. Sebuah karya seni mengandung rasa keindahan dan memberikan kepuasan batin bagi para penikmatnya. Oleh sebab itu apapun yang menimbulkan pesona keindahan dan rasa kepuasan batin dianggap sebagai suatu karya seni.
Perasaan akan keindahan merupakan kebutuhan setiap manusia. Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari, untuk memenuhi kepuasan batin akan keindahan manusia memerlukan karya seni. Dalam pemenuhan kebutuhan akan rasa keindahan tersebut manusia menciptakan sebuah karya seni yang disusun berdasarkan pemikiran-pemikirannya sehingga menjadi suatu karya seni yang indah, yang menimbulkan kesenangan untuk dinikmati.
Dalam menciptakan suatu karya seni, seringkali seorang seniman dipengaruhi oleh berbagai latar belakang baik lingkungan budaya maupun lingkungan fisik. Maka, karya seni yang diciptakan oleh suatu masyarakat tidak akan sama dengan masyarakat lain, walaupun akan dijumpai kemiripan. Karya seni yang dihasilkan oelh masyarakat pesisir pantai tidak akan sama dengan karya seni yang diciptakan oleh masyarakat pegunungan atau pedalaman. Masyarakat pesisir akan menciptakan karya seni yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Menangkap ikan, gemuruh ombak,pasir laut menjadi insipirasi mereka. Dari inspirasi tersebut terciptalah nyanyian yang bertempo cepat, tarian dengan ritme yang bergelombang.
Berbeda halnya dengan masyarakat pegunungan atau pedalaman yang dalam kehidupan sehari-harinya bergelut dengan suasana sepi, ritme kehidupan yang lamban, mereka menciptakan karya seni yang mengambil inspirasi dari gesekan dedaunan, gerakan hewan, suara binatang dan sebaginya. Karya seni yang terciptapun memiliki ciri yang khas yakni, memiliki ritme yang lamban, menirukan gerak dan suara binatang.
Tari Guel seringkali dipentaskan oleh masyarakat Dataran tinggi Gayo pada waktu pesta perkawinan. Mereka masih mengambil spirit pertalian sejarah dengan bahasa dan tari yang indah dalam Tari Guel.
Legenda Sengeda dan Gajah Putih
Pada masa lalu di dataran tinggi Gayo tinggal dua orang kakak beradik yakni, Sengeda dan Bener Meriah bersama ibu mereka. Suatu hari kedua kakak beradik itu menanyakan kepada ibunya siapakah keluarga mereka sebenarnya. Diterangkanlah oleh ibu mereka bahwa ayah mereka bernama Raja Lingga ke XIII, raja yang berkuasa di negeri Lingga. Sedangkan dari pihak ibu mereka adalah keluarga Sultan Malaka. Raja Lingga yang sekarang berkuasa adalah Abang kandung seayah dengan mereka. Sehabis menceritakan asal usul keluarga mereka sang ibu menyerahkan dua pusaka peninggalan almarhun ayahnya Raja Lingga XIII berupa sebilah pedang dan sebentuk cincin permata yang dalam dua benda pusaka tersebut terdapat tulisan yang bertuliskan bahwa kedua benda tersebut milik Raja Lingga yang diwariskan secara turun temurun pada keturunannya. Mendengar cerita tersebut keduanya sepakat untuk pergi ke Lingga untuk menemui Abang dan para kerabatnya.
Setelah mendapat izin dari ibunya, keduanya berangkat menuju Lingga. Sesampainya di sana dengan diantar oleh penguasa setempat, keduanya menghadap Raja Lingga XIV dengan hati penuh suka cita. Di halaman Umah Tujuh Ruang tempat Raja Lingga XIV bertahta mereka sangat terkagum-kagum akan keindahan tempat tersebut. Sesampainya di dalam Umah Tujuh Ruang mereka takjup akan keindahan dan kemewahan tempat tersebut. Mereka kagum akan kebesaran saudara mereka sebagai Raja Lingga XIV. Dihadapan raja dan para pembesar Kerajaan Lingga lainnya, mereka menceritakan maksud kedatangan mereka yang ingin bertemu dengan saudaranya dan juga para kerabat yang lain. Diceritakan pula bahwa mereka adalah anak dari Raja Lingga XIII dan juga keturunan keluarga Sultan Malaka. Tidak lupa mereka memperlihatkan pusaka pemberian ibu mereka kepada para hadirin sebagai bukti bahwa mereka keturunan Raja Lingga XIII.
Mendengar pengakuan dari kedua kakak beradik tersebut seluruh hadirin terharu dan merasa bersyukur bahwa keluarga mereka telah kembali. Namun dalam beberapa saat mereka terkejut akan ucapan Raja yang menuduh mereka berbohong. Menurut raja mereka bukanlah keluarga Raja Lingga XIII. Pusaka yang mereka miliki memang benar milik Raja Lingga XIII, tetapi pusaka tersebut telah dicuri oleh seseorang setelah membunuh Raja Lingga XIII. Dengan demikian kedua kakak beradik tersebut adalah pembunuh Raja Lingga XIII.
Mendengar tuduhan tersebut tentunya kedua kakak beradik terkejut bukan kepalang. Mereka sangat sedih bahwa mereka dituduh membunuh Ayah mereka. Atas dasar itu, raja pun memutuskan hukuman pada keduanya berupa hukuman mati. Mendengar titah raja yang demikian seluruh hadirin sangat terkejut. Para pembesar kerajaan berusaha meluruskan permasalahan dan meyakinkan raja bahwa kedua kakak beradik tersebut memang benar-benar anak Raja Lingga XIII. Dengan segala cara para hadirin yang terdiri dari para pembesar kerajaan dan kerabat istana membujuk raja untuk merubah keputusan, namun hati baginda raja telah membantu dan tetap memerintahkan kakak beradik tersebut untuk dihukum mati.
Untuk melaksanakan hukuman mati tersebut baginda raja memerintahkan seorang algojo untuk memancung Bener Meriah. Sedangkan Cik Serule salah seorang pembesar kerajaan ditugasi untuk memancung Sengeda. Atas perintah tersebut algojo yang berhati bengis ini langsung menyeret Bener Meriah dari Umah Tujuh Ruang untuk dipancung ditengah lapangan. Dalam sekejap akhirnya Bener Meriah merenggangkan nyawanya di tanggan algojo. Pakaian Bener meriah yang berlumuran darah dibawa algojo dan diserahkan pada raja sebagai bukti Bener meriah telah mati.
Sedangkan Sengeda dibawa Cik Serule ke suatu tempat untuk dibunuh. Dalam perjalanan ke tempat tersebut hati Sengeda hancur lebur menyaksikan kepergian saudaranya Bener meriah di tangan algojo atas perintah raja yang tamak. Sengeda telah pasrah dibawa kemanapun oleh Cik Serule.
Tanpa diduga sebelumnya oleh Sengeda, ternyata Cik Serule tidak membunuh Sengeda bahkan menyembunyikan Sengeda di suatu tempat tersembunyi. Untuk membuktikan bahwa perintah dari baginda Raja Lingga XIV telah dilaksanakan, Cik Serule meminta pakaian yang dikenakan Sengeda dan melumuri pakaian tersebut dengan darah binatang. Cik Serule memerintahkan Sengeda untuk tidak pergi meninggalkan tempat persembunyaian sampai beliau datang menjemputnya.
Setelah merasa aman, Cik Serule keluar dari tempat persembunyian dengan membawa pakaian Sengeda yang telah berlumuran darah. Di tengah perjalanan menuju Umah Tujuh Ruang, Cik Serule bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang memprotes keputusan raja namun tidak berani membantahnya. Sesampainya di Umah tujuh Ruang tempat berdiamnya raja, Cik Serule menyerahkan pakaian Sengeda yang telah berlumuran darah sebagai bukti bahwa tugas membunuh Sengeda telah dilaksanakan. Melihat bukti tersebut Raja Lingga XIV merasa gembira, beliau yang hatinya penuh diliputi rasa iri dan dengki merasa puas musuhnya telah tiada.
Seusai menghadap raja, Cik Serule memohon izin untuk kembali ke rumahnya. Sebelum sampai ke rumahnya Cik Serule mampir ke tempat persembunyian Sengeda dengan membawa bahan-bahan kebutuhan hidup. Cik Serule berpesan kembali kepada Sengeda bahwa Sengeda harus tetap bersembunyi di tempat tersebut sampai dirinya kembali.
Di tempat persembunyian Sengeda hidup seorang diri. Berbagai aktivitas ia lakukan untuk mengusir kesepian. Namun, setelah cukup lama bersembunyi kesepian tetap menerpa Sengeda apalagi jika ia mengingat peristiwa kematian saudaranya Bener meriah.
Ketika kesepian itu tidak dapat terbendung lagi, Sengeda berniat meninggalkan tempat persembunyian, namun sebelum sampai niatnya itu terlaksana, Cik Serule tiba mengunjungi Sengeda di tempat persembunyian. Tanpa diduga oleh Sengeda sebelumnya, ternyata Cik Serule telah mempunyai rencana untuk dirinya. Cik Serule menyuruhnya untuk tinggal di kediaman Cik Serule. Selama tinggal di rumah Cik Serule Sengeda mengerjakan tugas menjaga kebun dan ternak milik Cik Serule. Selama mengerjakan tugasnya Sengeda bekerja sangat rajin. Melihat kerajinan dan kepatuhan Sengeda, Cik Serule merasa sayang dengannya. Oleh sebab itu Sengeda telah dianggap anak oleh Cik Serule.
Suatu hari dalam tidurnya Sengeda bertemu dengan saudaranya Bener meriah. Dalam mimpi tersebut Bener meriah memberi petunjuk agar Sengeda meminta izin pada Cik Serule untuk ikut mengiringi Cik Serule ke ibukota Kerajaan Aceh Darussalam. Sebagai bekal ke ibukota kerajaan Aceh Darussalam, Sengeda diperintahkan membawa sebilah pisau kecil yang sangat tajam dan sebilah upih betung yang terbagus dan terlebar.
Sesampai di ibukota Sengeda diharuskan mencari jalan agar dia dapat diizinkan memasuk ke dalam keraton Darul dunia. Pada hari persidangan Sengeda diperintahkan untuk duduk di Balai Gading (balai tempat istirahat raja-raja). Dalam mimpinya tersebut Bener meriah memerintahkan Sengeda melukis seekor gajah di upih betung dengan pisau kecil yang telah dibawa. Setelah selesai mainkanlah lukisan tersebut niscaya akan datang seorang putri menghampiri diri mu. Jika putri tersebut bertanya ukiran apakah itu, jawablah itu merupakan lukisan gajah putih yang cantik rupawan dan kuat. Jika ditanya keberadaan gajah putih tersebut jawablah berada di negeri Lingga dan jika Sultan bersedia menyuruhmu menangkap gajah putih tersebut, kamu sanggup melaksanakannya. Jangan takut aku akan selalu membantu mu. Demikianlah ucapan Bener meriah dalam mimpi Sengeda.
Terjaga dari mimpi tersebut, Sengeda berpikir dengan keras. Dia sadar bahwa apabila melaksanakan amanat Bener meriah dalam mimpinya itu, jika ketahuan maka nyawa Sengeda menjadi taruhannya. Selain itu juga keselamatan Cik Serule juga ikut terancam. Namun setelah mempertimbangkan masak-masak dan berdoa pada Allah s.w.t, Sengeda berteguh hati melaksanakan amanat Bener meriah.
Pada suatu hari terdengar rencana Cik Serule ke ibu kota kerajaan Aceh Darussalam sebagai utusan Raja Lingga menghadiri sidang tahunan. Mendengar rencana tersebut Sengeda teringat akan mimpinya, menghadaplah Sengeda pada Cik Surele dan memohon untuk diajak serta dalam rombongan Cik Serule ke ibukota kerajaan Aceh Darussalam. Mendengar permohonan tersebut Cik Serule mengabulkannya. Maka berangkatlah Sengeda beserta rombongan Cik Serule ke ibu kota kerajaan Aceh Darussalam.
Ketika telah berada di ibu kota kerajaan Aceh Darussalam, Sengeda berusaha mencari kesempatan untuk dapat masuk ke dalam keraton Darul Dunia. Ketika seluruh pembesar kerajaan Aceh Darussalam beserta utusan raja-raja taklukan sedang melaksanakan sidang, Sengeda berhasil masuk ke dalam keraton Darul dunia dan menuju Balai gading. Sesampai di sana ia memainkan lukisan gajah yang telah ia lukis di atas upih bambu yang telah ia persiapkan dari rumah. Pada saat memainkan lukisan tersebut, Sengeda kagum, karena pantulan cahaya matahari yang mengenai lukisan tersebut dan memantul kembali ke tembok keraton membuat lukisan gajah tersebut menjadi sangat indah. Sesuai dengan mimpinya, tidak berapa lama datanglah seorang putri yang ternyata salah seorang putri Sultan Aceh. Sang putri menanyakan gambar tersebut pada Sengeda. Diceritakan oleh Sengeda tentang gajah putih sesuai dengan petunjuk Bener meriah dalam mimpinya. Mendengar cerita Sengeda, hati Sang putri terpikat dan memohon pada ayahnya Sultan Aceh Darussalam untuk memerintahkan Cik Serule membawakan gajah putih.
Mendengar permintaan putrinya, Sultan Aceh memerintahkan Cik Serule untuk menangkap gajah putih yang dimaksud. Mendengar permintaan Sultan Aceh, Cik Serule bingung bukan kepalang karena dia tidak mengetahui pengetahuan sama sekali tentang gajah putih yang dimaksud. Mengetahui hal itu Sengeda menceritakan seluruh mimpinya pada Cik Serule dan menenangkan hati Cik Serule dengan menyatakan kesanggupannya untuk menangkap Gajah putih dan mempersembahkannya pada Sultan Aceh.
Setiba di Lingga, Cik Serule melaporkan perintah Sultan Aceh pada Raja Lingga XIV. Kemudian Raja Lingga XIV memerintahkan pada seluruh rakyat untuk membantu Cik Serule menangkap gajah putih.
Untuk menangkap gajah putih di rimba Gayo, Sengeda memohon pada Cik Serule mengadakan kenduri sekedarnya dan berdoa di makam saudaranya Bener meriah. Selain itu juga Sengeda meminta pada penduduk kampung yang akan ikut menangkap gajah putih untuk membawa berbagai macam alat musik untuk dimainkan setelah berdoa di makan Bener meriah. Mendengar permintaan Sengeda, hati Cik Serule merasa bingung tidak mengerti apa hubungan menangkap gajah putih dengan berdoa di makam Bener meriah. Namun karena keyakinannya terhadap Sengeda, Cik serule mengabulkannya.
Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah Sengeda bersama Cik serule dan rombongan menuju makam Bener meriah dengan membawa bahan makanan untuk kenduri serta tidak lupa membawa alat-alat kesenian.
Sesampainya di makam Bener meriah mereka berdoa pada Allah s.w.t agar niat mereka dapat terlaksana dengan baik. Selesai berdoa mereka pun melaksanakan kenduri sambil memainkan alat-alat kesenian yang telah mereka persiapkan. Di saat bersamaan, Sengeda memerintahkan beberapa orang yang tidak membawa alat musik untuk menari. Dengan alunan sedih, Sengeda menyanyikan lagu yang menceritakan kesedihannya ditinggal saudara kandungnya Bener meriah. Tari, syair lagu dan alunan musik yang sedih tersebut membentuk suatu rangkaian yang sampai saat ini dikenal sebagai “Tari Guel”.
Ketika mereka sedang asik menari dan memainkan musik, tiba dari arah rumpun bambu muncul seekor gajah putih yang besar dan cantik. Melihat hal itu Sengeda memerintahkan para penduduk untuk terus memainkan tarian tersebut dengan hati yang ikhlas. Mendengar suara alunan musik dan gerak tari yang ritmis tersebut gajah putih bagaikan tersihir. Sengeda dengan didampingi Cik serule menghampiri gajah putih yang telah jinak tersebut untuk menangkap dan mengikatnya.
Keberhasilan Sengeda dan Cik serule menangkap gajah putih membuat hati Raja Lingga XIV berbunga-bunga membayangkan hadiah yang akan ia terima. Tanpa menunggu lama raja memerintahkan Sengeda dan Cik Serule untuk mendampinginya mengantar gajah putih tersebut ke ibukota kerajaan Aceh Darussalam untuk dipersembahkan pada Sultan Aceh. Selama dalam perjalanan sekali-kali Cik Serule menepung tawari gajah putih tersebut agar tetap jinak.
Singkat cerita sampailah rombongan ke hadapan Sultan Aceh. Melihat gajah putihyang diinginkannya putri sultan merasa gembira hatinya. Atas keberhasilan tersebut sultan memberikan hadiah dalam upacara kebesaran. Sebelum acara penyerahan hadiah dilaksanakan, Raja Lingga XIV menghampiri gajah putih untuk memamerkan pada seluruh negeri bahwa dia telah berhasil menangkap gajah putih. Tanpa diduga, gajah putih tersebut mengamuk dan menyemprotkan Raja Lingga dengan air lumpur. Untung saja kejadian tersebut cepat diketahui oleh Sengeda dan Cik serule sehingga raja lingga dapat diselamatkan dari amukan gajah.
Pada hari pemeberian hadiah, Sultan Aceh yang bijaksana sangat tertarik akan kisah Sengeda yang telah berhasil menangkap gajah putih. Maka ditanya pula asal usul Sengeda. Memenuhi permintaan Sultan, Sengeda dengan didampingi Cik Serule dan Raja Lingga XIV menceritakan dengan sebenarnya asal usul Sengeda dan tidak lupa diceritakan pula peristiwa kematian saudara kandungnya Bener Meriah. Untuk memperkuat cerita Sengeda, sultan memerintahkan untuk menghadirkan ibu Sengeda. Setibanya di ruang sidang, ibu Sengeda menceritakan kembali asal-usul Sengeda. Mendengar cerita Sengeda dan ibunya, murka lah baginda pada Raja Lingga XIV yang begitu bengis telah memerintahkan algojo untuk membunuh saudara sendiri. Atas perbuatannya tersebut sultan memutuskan menghukum mati Raja Lingga XIV.
Demikianlah legenda Sengeda dan Gajah putih. Dari legenda inilah tari guel berasal. Begitulah sejarah dari cerita rakyat di Gayo, walaupun kebenaran secara ilmiah tidak bisa dibuktikan, namun kemudian Tari Guel dalam perkembangannya tetap mereka ulang cerita unik Sengeda, Gajah Putih dan sang Putri Sultan. Inilah yang kemudian dikenal temali sejarah yang menghubungkan kerajaan Linge dengan Kerajaan Aceh Darussalam begitu dekat dan bersahaja.
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa tari guel tidak bisa terlepas dari legenda Sengeda dan gajah putih. Berbagai simbolisasi yang mewakili legenda tersebut terdapat pada tari guel. Bahkan dapat dikatakan bahwa tari guel merupakan reinkarnasi dari legenda tersebut.
Tari Guel dibagi dalam empat babakan baku. Terdiri dari babak Mu natap, Babak II Dep, Babak III Ketibung, Babak IV Cincang Nangka. Ragam Gerak atau gerak dasar adalah Salam Semah (Munatap ), Kepur Nunguk, Sining Lintah, Semer Kaleng (Sengker Kalang), Dah-Papan.
Sementara jumlah para penari dalam perkembangannya terdiri dari kelompok pria dan wanita berkisar antara 8-10 ( Wanita ), 2-4 ( Pria ). Jumlah penabuh biasanya minimal 4 orang yang menabuh Canang, Gong, Rebana, dan Memong.
Penari pria dalam setiap penampilannya menjadi primadona dan merupakan simbol yang mewakili tokoh-tokoh dalam legenda tersebut. Sengeda kemudian diperankan oleh Guru Didong yakni penari yang mengajak Beyi (Aman Manya ) atau Linto Baroe untuk bangun dari tempat persandingan (Pelaminan). Sedangkan Gajah Putih diperankan oleh Linto Baroe (Pengantin Laki-laki). Pengulu Mungkur, Pengulu Bedak diperankan oleh kaum ibu yang menaburkan breuh padee (beras padi) atau dikenal dengan bertih.
Tari Guel memang unik, tari tersebut mengandung unsur dan karakter perpaduan unsur keras lembut dan bersahaja. Bila para pemain benar-benar mengusai tarian ini, terutama peran Sengeda dan Gajah Putih maka bagi penonton akan merasakan ketakjuban luar biasa. Seolah-olah terjadinya pertarungaan dan upaya mempengaruhi antara Sengeda dan Gajah Putih. Upaya untuk menundukkan jelas terlihat, hingga kipasan kain kerawang Gayo di Punggung Penari seakan mengandung kekuatan yang luar biasa sepanjang tarian. Guel dari babakan ke babakan lainnya hingga usai selalu menawarkan uluran tangan seperti tarian sepasang kekasih ditengah kegundahan orang tuanya. Tidak ada yang menang dan kalah dalam tari ini, karena persembahan dan pertautan gerak dan tatapan mata adalah perlambang Cinta.
Teori Evolusi Manusia, benarkah ada manusia purba didalam al-Qur'an ?
Di abad modern saat ini, dunia
tekhnologi telah memiliki peran objek penting bagi segala kebutuhan manusia.
Tekhnologi telah memiliki posisi tinggi pada kedudukannya bahkan berada di
posisi volume perkembangan yang sangat pesat, banyak objek ke-ilmuan yang saat
ini telah dicapai olehnya, baik dalam bidang ilmu arkeologi, sosiologi,
biologi, antropologi, kosmologi, bahkan tinjaun yang berasal dari Agama pun
tidak lepas dari pengaruh arus tekhnologi yang pesat ini.
Bisa dikatakan bahwa abad 21 adalah abad
dimana masa ilmu pengetahuan mengalami titik keberhasilan sempurna, lain halnya
pada abad-abad sebelumnya pengaruh tekhnologi masih pada proses penceharian
hingga belum banyak hal yang ditemukannya dan pengaruh ilmu pengetahuan pada masa
itu juga belum mencapai pada tahap maksimal, sehingga ilmu pengetahuan masih
minim tingkat keotentikannya.
Namun perlu diketahui, ketika arus
globalisasi berkembang sedemikian pesatnya, para ilmuan dalam segala bidang pengetahuan
telah banyak memisahkan korelasi ke-Agama-an dengan ilmu pengetahuan modern,
sehingga tidak jarang dari keabasahan suatu bidang ilmu menjadi tidak sesuai dengan apa yang telah di arahkan
oleh agama, selain itu ilmu tersebut mengakibatkan banyak terjadi kontroversial
pendapat bahkan lebih jauhnya ilmu tersebut menjadi tidak relavan lagi dan
dapat memunculah beberapa keraguan-keraguan yang mengakibatkan pada kebohongan
ilmiah, akibatnya fikiran manusia jauh dari Agama dan pada akhirnya menganggap bahwa
agama hanyalah sebagai ruang lingkup ibadah saja, bukan lagi sebagai rujukan
sensor dari setiap bidang ilmu pengetahuan. Ada alasan mengapa keadaan seperti
ini terjadi, ini disebabkan karena Ilmu Pengetahuan dengan Agama tidaklah
bersatu.
Maka beranjak dari permasalahan
tersebut diatas, terdapat beberapa ilmu pengetahuan yang saat ini telah
mengalami ketidak absahan objek sehingga menjadi rancu akan manfaatnya, demikianlah
yang terjadi pada konsep keyakinan tentang adanya manusia purba sebagai nenek
moyang manusia modern (manusia sekarang), padahal jika ditelusuri lebih dalam dengan
alat kacamata Agama, konsep ini dianggap salah dan tidak dapat dibuktikan
secara Agama bahkanpun secara ilmiah. Untuk itu banyak penilaian oleh para
ilmuan menyatakan bahwa teori ini telah dianggap sebagai bentuk konsep kebohongan
dan menipu atas setiap golongan masyarakat dunia.
Maka oleh karena itulah dalam berbagai
ilmu pengetahuan yang telah berkembang masa kini dan mungkin akan berkembang
untuk seterusnya, haruslah bagi seorang peneliti yang sibuk akan sebuah ilmu
pengetahuannya agar kiranya dapat menjadikan tali keterhubungan antara ilmu
dunia dan Agama, semata tujuannya adalah untuk mengikat ruang ke-absahan bentuk
ilmu yang dituju itu menjadi relavan, benar dan fakta akan keotentikannya.
Seiring dengan perkembangan masa,
arus Technologi Information atau yang biasa dikenal dengan informasi dunia
bebas, sudah semakin maju dan berkembang dengan pesatnya diseluruh penjuru
dunia, baik arus tersebut dilihat dari segi keagamaan ataupun pendidikan yang bersifat umum. Seperti halnya ilmu biologi, geologi, komputer, matematika, politik atau arkeologi (yaitu suatu bidang studi ilmu yang mempelajari
tentang sistematik benda-benda kuno sebagai suatu alat untuk
merekonstruksi masa lampau[1]).
Namun tidak menjadi heran jika dalam arus tersebut kefaktaan ilmu memiliki sisi
kelemahan dan kurang dari bukti fakta Agama. Contohnya seperti hal yang telah
disebutkan diatas tersebut bahwa pembelajaran suatu ilmu mengenai tentang Manusia
purba yang menurut sebahagian para ahli telah hidup berjuta-juta tahun yang
lalu adalah teori yang salah, kenapa demikan ? karena keberadaan konsep
tersebut tidak disebutkan dalam kumpulan dalil yang 4.
Di dunia sekarang ini kemajuan
jaringan informasi terus melebar sesuai dengan perkembangan zamannya, disisi
lain proses pemikiran manusia pun juga mengalami perubahan dan berkembang. Namun
ketidak kongkritan dalam suatu bidang informasi yang disampaikan dalam sebuah pemikiran
juga muncul bersamaan dengan arus tekhnologi tersebut. Suatu
kondisi ilmu jika tidak digandengkan dengan referensi yang
tepat dan lugas maka ilmu itu terhenti pada akal
keraguan. Padahal salah
satu syarat bentuk ke-ontikan dari ilmu tersebut adalah terdapat segala bukti
yang nyata dan minim dari perdebatan yang berkepanjangan serta tidak adanya
unsur “semata karena akal logika manusia”. Jika terjadi banyak
kontradiksi maka ilmu tersebut bisa dikatakkan rancu. Maksud dari kata
perkiraan yang diatas adalah “mengkira-kirakan hasil pemikiran dalam suatu
bidang ilmu”, seperti memperkiraan umur bendawi yang sudah menjadi fosil dalam
menetapkan masa hidup, lahir bahkan sampai musnahnya fosil tersebut.
Lebih dalamnya, kondisi yang menjadi
pembahasan diatas dapat dibuktikan dengan suatu bidang ilmu yang menurut
penulis merupakan salah satu bidang ilmu yang tidak dapat dipertanggung
jawabkan akan pembuktian-pembuktian ilmiahnya, adapun ilmu tersebut adalah fosil
Manusia Purba yang diyakini sebagai manusia pertama dibumi dan sebagai makhluk
sebelum Adam.
Sepanjang sejarah penemuan
fosil-fosil yang selama ini dianggap manusia purba merupakan hasil dari sebuah
penelitian ilmiah yang ditemukan oleh para ilmuan Barat. Baik dalam bidang penelitian
mengenai usia segala fosil ataupun dalam bidang penelitian mengenai keberadaan
fosil, adaptasinya, sifatnya ataupun selain dari padanya.
Dalam pemikiran mereka dan beranjak dari penemuan
fosil-fosil tersebut timbulah sebuah pendapat yang mengemukakan bahwa asal-usul
manusia purba pada awalnya adalah Manusia Ardipithecus Rramidus,[2] ,
fosil ini ditemukan oleh
Tim White, Berhane Asfaw dan Gen Suwa pada th.1992, 1993 dan 1994 di Aramis,
Ethiopia, Afrika, yang berumurnya diperkirakan 4,4 juta tahun lalu. Namun sebahagian pendapat para ahli lainnya
mengatakan bahwa kehidupan awal manusia purba yang cerdas ataupun sebutan nenek
moyang manusia modern adalah Homo Sapiens, fosil ini berada pada Zaman
Kuarter Piestosen, yaitu zaman yang berumur sekitar 25.000
tahun yang lalu.[3] Muhammad
sholihin mengatakan didalam bukunya bahwa Nabi Nuh adalah manusia yang
digolongkan kepada generasi ketiga, sedangkan generasi kedua adalah Nabi Adam,
adapun generasi pertamanya yaitu“manusia yang
belum berakal yang akhirnya hanya merusakkan bumi, sehingga diganti oleh Allah”[4] (Manusia Purba). Kemudian Muhammad menambahkan bahwa manusia
purba hidup pada masa sebelum Adam diturunkan,
istilah manusia purba ini disebut olehnya dengan nama Pithecantropus Erectus.[5]
Konsep pemikiran diatas bagi
peradaban Barat ataupun konsep yang dikemukakan oleh orang yang non Barat
adalah susuatu yang real bagi mereka. Namun perlu dicatat, ilmu pengetahuan
yang berkembang pada era dominasi peradaban barat sekarang ini bersumber dari
paham sekularisme, utilitarianisme dan materialisme. Pemahaman tersebut menolak
unsur transenden dalam alam semesta, yaitu memisahkan agama dari kehidupan dan
nilai yang tidak mutlak atau relatif (Harvey Cox, The Secular City, 1965).[6]
Memahami konsep asal-usul manusia
seperti yang dikemukakan di atas, adalah tidak bijak jika adanya pengklaiman
bahwa konsep tersebut adalah salah, jika tidak didasari pada penelitian-penelitian
lebih lanjut dan disertai dengan unsur agama. Dalam pandangan Islam menggabarkan
bahwa setiap yang diperbuat ataupun yang diciptakan oleh makhluk adalah baharu
dan terdapat suatu kelemahan serta ketidak sempurnaannya dari hasil yang telah diperbuat
olehnya. Kondisi seperti inilah yang selanjutnya disebut dengan istilah wajib
aqli[7]
dalam ilmu Tauhid, yaitu sesuatu hal kejadian ataupun ketetapan hukum yang harus
ada pada segala makhluk itu lemah dan mustahil jika suatu hal ini tiada padanya,
pemikiran akal seperti ini wajib ada bagi setiap mukallaf, baik muslim ataupun
tidak, alasannya karena segala hal yang bersifat materi adalah makhluk dan
setiap makhluk adalah baharu dan yang baharu akan musnah dan memiliki unsur
kelemahan. Maka untuk itu segala hal yang berasal dari makhluk, seperti hasil
usaha, iktiar, ilmu, hal yang diperbuat, dan bahkan penemuan sebuah teori yang
telah ditemukan selama ini oleh berbagai para ahli dalam setiap bidang ilmu
pengetahuan mengandung sisi kelemahannya, maka jika dijadikan pegangan hukum
mutlak dibawah dasar akidahnya adalah tidak dibenarkan, apalagi itiqad
batiniyah dan lahiriyyah yang tidak ber-korelasi kepada ajaran Allah SWT.
Mahmud Yunus dalam kamusnya mengatakan
bahwa, makhluk secara definisi lafadznya diartikan sebagai makna sesuatu
yang dijadikan[8]. Adapun secara maknawiyah-nya
(secara makna arti) makhluk dapat diartikan sebagai jenis seperti manusia, jin,
iblis, tumbuh-tumbuhan, angin, gunung dan lain sebagainya. Sedangkan yang
menjadikan semua makhluk dinamakan dengan Khaaliq, sang pencipta yaitu
Allah SWT. Maka dapat disimpulkan bahwasanya kelemahan pada makhluk adalah wajib
akal, yaitu wajib dipercaya secara akal akan keberadaan kelemahan ilmu
hasil pengetahuan manusia dan akhirnya kesempurnaan tiada kelemahan adalah pada
Sang Pencipta, yaitu Allah SWT.
Disetiap ilmu pengetahuan dunia tidaklah
dapat dilepaskan dengan ilmu pengetahuan agama. Mustahil adanya agama tanpa
ilmu dan mustahil juga berkembangnya ilmu tanpa agama. Keduanya adalah satu,
tidak bisa terpisah dari keduanya, baik cara kerja ilmu itu sendiri, fungsi,
hikmah, maksud ataupun kefaktaan ilmu dan lain sebagainya. Dalam hal ini Sugiharto
mengatakan, bahwa ilmu dan agama perlu dipertemukan, khusunya dalam konteks
perguruan tinggi[9].
Dilihat dari pandangan umum, adapun keberadaan
teori manusia purba tidaklah ditemukan sama sekali penjelasannya dalam ayat al-Qur’an
bahkan pun al-Hadis, demikian juga halnya didalam kitab-kitab tafsir yang
dikarang oleh para ahli tafsir. Tidak satu ayat pun yang menerangkan keberadaan
manusia purba tersebut bahwa pernah beradaptasi berjuta-juta tahun dibumi,
namun dari sekelumit penjelasan ayat yang diturunkan oleh Allah tersebut, para
ahli tafsir mendapati sebuah berita ayat yang mengarah kepada penjelasan
makhluk sebelum Adam A.S, akan tetapi berita yang didapati didalam al-Qur’an
tersebut tidaklah mengarah kepada tema makhluk yang berbentuk kera itu, namun
mereka berpendapat bahwa makhluk itu adalah golongan yang dimaksud oleh
malaikat ketika Allah berkkehendak untuk menciptakan Adam, yaitu mereka berasal
dari bangsa jin bukan manusia. Imam
as-Suyuti, salah seorang dari ahli tafsir mengatakan bahwa Rasulullah pernah
bersabda dalam hadistnya “Mereka (yaitu makhluk yang pernah hidup dibumi
sebelum adam diturunkan) adalah sekolompok jin yang bernama al-Haris”[10]. Dalam
hadist yang lain menyebutkan bahwa “Mereka adalah segolongan jin yang diturunkan
kemuka bumi lalu mereka saling membunuh”[11] Inilah
makna tafsir al-Qur’an dalam surat al-Baqaarah ayat 30 yang menyatakan
bahwasanya para malaikat pada dasarnya tidak menyetujui atas kehendak Allah dalam
menciptakan keberadaan Adam kemuka bumi ini, Sehingga mereka bertanya kepada
Allah “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi
itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah”(Q.S.
Al-Baqarah : 30). Akan tetapi Allah SWT menjawab, “Sesungguhya
Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”.
Menurut Imam
al-Qaasimy, bentuk ketidak setujuan malaikat saat itu merupakan sebuah pengetahuan
khusus yang diberikan oleh Allah kepada mereka sehingga mereka bisa mengetahui
apa yang ingin diciptakan oleh Allah SWT.[12] Al-Qasimy, berpendapat demikian
karena tidaklah relavan jika para malaikat yang memiliki sifat patuh atas segala perintah Allah berani
memprotesi kehendak Allah saat itu, maka tidaklah terlepas dari makna dalil
yang menjadikan rujukan al-Qasimy untuk berpendapat bahwa bentuk bertanyanya
mereka kepada Allah saat itu adalah sebuah kelebihan sifat yang diberikan oleh
Allah kepada mereka, hal ini adalah wajar terjadinya karena mereka adalah para
malaikat Allah dan proses kejadian Adam pada saat itu juga merupakan sabab
musabab dalam sebuah penciptan-Nya.
Sebahagian para ahli tafsir menerangkan
bahwasanya makhluk pertama di dunia ini adalah berupa jin ataupun jin yang
berasal dari golongan malaikat, sedangkan menurut para ahli dalam bidang Paleontropologi
mengatakan dalam berbagai kutipan mereka bahwasanya makhluk pertama yang pernah
mendiami isi bumi ini adalah manusia purba bukanlah Adam, sehingga mereka
mendefinisikan bahwasanya manusia purba pernah hidup pada masa bumi masih dalam
proses pembentukan sempurna. Kedua pendapat ini mengalami kontroversi argumen
yang sudah terjadi puluhan tahun kebelakang akan tetapi teori barat ini tidak
dihiraukan akan kebenarannya oleh sebahagian bidang pendidikan ataupun dalam
ranah kurikulum masyarakat Islam itu sendiri, sehingga teori yang berasal dari
sebuah pemahaman keliru itupun menjamur keseluruh pendidikan umum yang sampai
saat ini segolongan inhabitas dunia masih mempelajarinya, baik dalam kurikulum
Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, bahkan dibeberapa universitas
pendidikan tinggi pun teori ini menjadi dasar awal tema dimulainya pengetahuan
ilmu pra-sejarah yang setiap penuntut ilmunya harus mengetahui sedikit tidaknya
tentang adaptasi makhluk manusia tersebut sebelum dimulainya pembahasan sejarah
dalam setiap waktunya, keadaan, dan keberadaan dalam kurikulum yang sah.
Di sisi lain, ada anggapan dari sebahagian
kecil masyarakat mempertanyai keberadaan bentuk transisi ending generasi ke 3
antar manusia purba dengan manusia Adam kemasa sejarah Nabi Adam A.S dengan
umatnya saat itu, seperti mana yang telah digambarkan oleh MuhammaShalihin
diatas, maka diposisi manakah keberadaan
manusia purba tersebut ? ada yang mengatakan mereka berada dimasa sebelum para
Nabi dihidupkan, bahkan sebahagian masyarakat menengah kebawah berpendapat
manusia purba hidup semasa dengan Adam yang selanjutnya berlanjut kemasa setelahnya.
Perlu diketahui, semua pendapat yang telah
dijelaskan disini adalah bentuk pemahaman teori yang membingungkan bagi
masayarakat dunia ataupun khususnya di indonesia, teori ini telah lama berakar
dikalangan masyarakat dan anggapan cara berfikir salah ini mengalami multitafsir
terus menerus hingga saat ini bahkan kemasa mendatang. Untuk itu beranjak dari
permasalahan inilah penulis sangatlah perlu mengarahkan dan mencoba untuk
memberikan beberapa penjelasan sebenarnya mengenai siapakah manusia yang pertama
dibumi sebagaimana yang telah diajarkan dalam al-Qur’an, hadist dan pendapat
para ulama tafsir.
Selain itu,
penulis juga merasa perlu melakukan penelitian melalui metode-metode kaedah
al-Qur’an, kemudian mencari ayat-ayat al-Qur’an berkenaan dengan adanya makhluk
purba atau tidak, lalu bagaimanakah al-Qur’an menaggapi permasalahan ini, dan
siapakah makhluk yang sebenarnya yang hidup sebelum Adam diturunkan, apakah
al-Qur’an menyebutkannya ataukah tidak, kemudian apakah manusia purba dijelaskan
dalam kitab suci tersebut ?. Untuk memperkuat kumpulan argumen dalam buku ini
penulis juga akan menilik beberapa pendapat para ahli tafsir al-Qur’an dan
berbagai pandangan keilmuan agama dalam menjawab sekelumit permasalahan
tersebut, termasuk disana nanti penulis merasa perlu untuk meletakkan beberapa
kaedah-kaedah ilmu agama, seperti ilmu Tauhid, Ilmu Mantiq, Nahwu, Sharaf, Ilmu
Balagah, dan lain sebagainya yang semua ilmu tersebut tak lepas dari objek yang
berkorelasi kepada pembahasan yang dimaksud.
Adapun tujuan dari semua pembahasan yang
penulis jelaskan kedepan nanti adalah semata hanya karena untuk mengarahkan
pandangan agama kepada arti kehakekatan manusia pertama yang sesungguhnya dalam
pandangan Al-Qur’an juga ilmu agama lainnya. Selain itu penulis mengajak kepada
seluruh masyarakat khususnya anda yang membaca buku ini agar kiranya dapat
memahami tentang pentingnya tali pengikat agama dibeberapa sisi ilmu
pengetahuan dalam segala hal agar kiranya ilmu itu tidak lari dari sifat
kebenaran dan tidak berada di beberapa tempat kebohongan-kebohongan belaka.
Semoga Allah SWT meridhai kita semua dan
selalu merahmati atas segala apa yang kita lakukan. Amin.
Blang Bintang, Banda Aceh 28 Juli 2012
[1]Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, (Jakarta: Kepustakaan
Populer Gramedia, 2009), hal. 2.
[2]AF Hizbullah (Ahli Geologi Museum Bandung), Temuan Fosil Manusia Purba
di Dunia, Bandung, 4 Rabi’ul Awwal 1426 H/13 April 2005.
[4]Muhammad
Sholihin, Misteri Bulan Syura Perspektif Islam Jawa, (Jakarta: PT. Suka
Buku Kita 2010), hal 203.
[5]Ibid.
[7] Awaluddin, Sifat dua puluh, (Jakarta
: Yayasan Sosial Pendidikan Pengembangan dan Penelitian Islam, M.A Jaya
Indonesia), hal. 12.
[8] Yunus Muhammad, Qamus Arab-Indonesia,
(Jakarta : PT. Mahmud Yunus Wadzuryah, 1989), hal. 120.
[9]
Zainal Abidin dkk., Integrasii Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi, Cet.
I, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2005), hal 13.
[10]
Imam as-Suyuti, ad-Dur al-Mansur fi Tafsir al-Ma’tshur, Jilid I, (Beirut
: Darul Fikri, 1983), hal. 111.
[12]
Muhammad Jamaluddin, Tafsir Mahasinut Ta’wil Juzu’ I, (Beirut: Darul
Fikri, 1978), hal. 96.
Langganan:
Postingan (Atom)


